Arsip ‘Batam’ Tag

Batam: Aman, Walau Ada Ribuan Geng

Siapa yg. tak kenal Al  Capone? Sosok gangster legendaris yg. bikin heboh Chicago. Kita juga pasti sudah sering dengar Kapak Merah, gang made in Indonesia. Wow, serem!

Namun, jika kita ngomong soal gang atau geng atau genk di Batam tidak perlu takut atau merasa serem. Kenyataannya, di Batam memang ada banyak genk. Jumlahnya mencapai ribuan atau puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu tidak ada yang tahu pasti jumlahnya. Yang pasti, ke manapun kita melangkah tak sejengkal pun wilayah yg tidak ada genk-nya.

Berbeda dg. genk di banyak tempat, genk di Batam tidak suka bikin keonaran. Malahan, mereka santun dan ramah. Lho koq?! Karena genk di Batam adalah panggilan eskaesde. Jangan heran bila Anda dipanggil “genk” oleh orang di Batam!

Jangan heran pula bila dipanggil dg. “om” atau “boz:)

G’mana boz, masih ga mau datang ke Batam? :D

Dia Boz Orang Batam

“Pembeli adalah raja.” Kiranya pepatah itu dipegang teguh oleh para pelaku ekonomi di Batam. Tidak hanya saat jual-beli di pasar tradisional dan toko-2 kecil & besar (bukan swalayan), saat naik taksi pun “pembeli” adalah raja. Tawar menawar harga! :D

Bahkan ada sapaan khusus untuk para “pembeli”, yaitu “boz“. Sehingga pepatah itu menjadi “pembeli adalah boz”.

“Pagi Boz! Cari apa?” Begitulah kurang-lebih sapaan para penjaga toko dan lain2 customer service sektor informal yg ada di Batam pada (calon) pelanggan. Tidak membedakan penampilan (calon) pelanggan. Baik yg. bernampilan boz (betulan), yg. biasa2 atau bahkan yg. berpenampilan seadanya. Semua (calon) pelanggan dipanggil dg. boz!

Pertama kali saya mendengar kalimat sapaan seperti ini, saya agak risih. Wong ora gablek duwit koq diceluk boz. Namun lama-kelamaan…. Enjoy aza :D

So, jangan kaget ketika dipanggi “boz” dan jangan heran ketika dipanggil “om”.

***
Soal judul: Kata “dia” berarti siapa saja yg bisa disebut dg “dia”. Semua orang di Batam itu boz bagi orang Batam.

Habis Gelap Terbitlah Terang

Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran adalah judul buku kumpulan surat-surat Kartini satu abad yang lalu.

Namun saya bukanlah hendak menulis tentang Kartini, walau hari ini (21/4) adalah Hari Kartini. Namun tentang Batam!

Nah loh…! Apa hubungan Kartini dengan Batam? Memangnya ada?

Tentu saja! Tapi yang pasti bukan karena Kartini lahir di Batam atau juga karena (memang) ada Sekolah Kartini di Batam.

Begini lho…

Beberapa waktu lalu, Bapak Walikota Batam Drs. Ahmad Dahlan menerima IGA 2008. Salah satu poin untuk Batam  adalah karena proyek pemasangan 5.500 titik lampu jalan itu….
Nah sampai saat ini, proyek itu masih berjalan. Di daerah sekitar rumah saya, masih dalam tahap pemasangan kabel listrik.

Dengan kelarnya proyek tersebut saya berharap habislah daerah gelap di Batam, yang ada hanya terang! :)

Ya, dengan terangnya jalan raya-jalan raya yang biasa dilalui penduduk Batam bisa dilalui dengan nyaman di malam hari.

Pernah suatu saat saya pulang malam dari Sekupang lewat Hutan Wisata Mata Kucing. Wuich…! Ngeri, gelap-lap!

Juga jalan antara Muka Kuning dengan Batu Aji. Gelaaaaaaaap! Padahal jalan tersebut adalah jalan yang biasa dilalui para pekerja di Muka Kuning yang tinggal di Batu Aji dan sekitarnya. Pekerja yang pulang malam dan kecapekan ini harus ekstra hati-hati saat pulang ke rumah.

Nah, dengan selesainya proyek tersebut saya berharap banyak penduduk Batam bisa makin aman melintas di jalan raya dan demit-demit sembunyi di atas bukit-bukit. Habis…. Silau man!!

Batam, Kotanya Om-Om!

Bukan bermaksud menguak sisi negatip Kota Batam tercinta… (ceile…. tapi betul, saya cinta koq sama Batam). Tapi memang begitulah adanya, Batam kotanya Om-om!

Tidak percaya? Baiklah, ini adalah kisah nyata yang saya alami sendiri.

Waktu itu adalah jam kerja, di suatu tempat di BIP Muka Kuning (sebuah kawasan industri di Batam)… Seorang cewe cakep mendekatiku lalu berkata “Om, malem minggu ada acara?”. Eh cewe ini…. Belum aku jawab dia sudah melanjutkan. “Om Sihab serumah dengan Om Kholiq, kan?” Weleh…. Si Kholiq, kawanku serumah, seorang Om-om?
“Iya”, jawabku.
“Iya Om…. Kami kawan-kawan di sini mau main ke rumah. Boleh, kan?”
“Boleh. Tapi koq manggilnya Om, sich?”
“Iyalah…. Di sini biasa koq panggil pake panggilan Om, ga ada yang negatip koq.”
Walah…..

NB:
1. Nama cewe sengaja di rahasiakan, karena kisah nyata di atas sudah saya ubah sesuai selera saya.
2. Klo ada cewe yang panggil ente Om, jangan GR dulu! :D

Pemko Batam Bekerja Sama dengan Penyedia OS Tertentu?

Halaman Berikutnya »